Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

23 April 2017

, , , , , , , ,

NEZU SHRINE, MINI FUSHIMI INARI IN TOKYO



Jika membayangkan jajaran gerbang merah khas shrine di Jepang, kita pasti akan langsung mengasosiasikan dengan Fushimi Inari-Taisha di Kyoto yang telah menjadi destinasi populer dan merupakan salah satu shrine yang paling banyak dikunjungi di Jepang.


Namun jika kita hanya ingin menghabiskan waktu di Tokyo, vibes serupa dapat ditemukan di shrine yang hanya berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki dari Nezu Station di Tokyo. Deretan torii gate berwarna merah-oranye memenuhi salah satu sisi jalur utama di Nezu Shrine, lengkap dengan tulisan-tulisan Jepang di sisi tiang gerbang merah ini.


Jajaran torii gate merah benar-benar menyerupai yang ada di Fushimi Inari-Taisha, namun dalam skala lebih kecil, tapi lebih tenang dan sepi karena Nezu Shrine tidak sepopuler Fushimi Inari-Taisha.


Saya menemukan shrine ini tanpa disengaja. Awalnya saya singgah ke Nezu Station karena ingin datang ke toko Marutaro, anjing shiba populer Jepang yang kini bahkan (pemiliknya) memiliki toko merchandise khusus Maru. Usai berkunjung ke toko Maru, saya melihat ada shrine yang berjarak sangat dekat di map sehingga iseng mampir, namun ternyata Nezu Shrine sangat cantik dan menyenangkan :)


Saya menghabiskan banyak waktu di shrine ini untuk foto-foto, sekadar nongkrong dan menikmati ambience, plus mengirim doa positif, bersyukur atas ketidaksengajaan yang menyenangkan ini.

@marischkaprue – shop and shrine (stops)

NOTES

NEZU SHRINE
113-0031 Tokyo, Bunkyo

GETTING THERE
From Omote-Sando, take the Tokyo Metro Chiyoda Line for Ayase and stop at Nezu Station
Nezu Shrine is a 10 minutes walk distance from the station

STAY


Try renting apartment when you visit Tokyo, we stayed at HomeAway properties and it surely feels like home :)

***

13 April 2017

, , , , , , , ,

STUNNED IN RAINBOW HILLS, PEKANBARU



Kadang, hal-hal menarik justru kita temukan secara tidak sengaja. Bagaikan harta karun, menemukan lokasi yang mempesona memberikan kepuasan luar biasa.

at Khayangan Lake
the old abandon house near Khayangan Lake
Di siang yang terik itu, saya dan Ferry baru meninggalkan area Danau Khayangan di Desa Limbungan, sekitar 10 kilometer dari Pekanbaru. Setelah berhenti sejenak di rumah tua yang terbengkalai (will post about this also, later), kami berbelok di gapura yang tampak seperti pintu tol, hanya dengan modal iseng saja.


Tidak lama usai melewati gapura, kami melihat kontur seperti lembah dan bukit kecil dari tanah merah. Sebelumnya, saya melihat gambar serupa di Instagram sehingga kami memutuskan untuk berhenti dan mendekat.





Turun dari mobil dan berjalan semakin dekat, kami terkejut karena lembah-lembah tanah kecil ini berwarna-warni, mulai dari coklat tua, oranye, kekuningan hingga pink dan abu-abu muda. Kombinasi warna tanah ini sangat menarik, berpadu dengan retakan tanah yang mengering dan langit yang sangat biru hari itu.




Panas yang menyengat langsung terlupakan karena kami sangat excited menemukan area yang simply breath-taking itu, tanpa diduga. Yang menarik, warna dan kontur tanah ini sepertinya akan selalu berubah, saat hujan turun maka tumpukan tanah yang mengering akan tergerus, retakan akan menghilang dan lumpur akan mengalir membentuk kontur baru yang akan kembali mengering dan menimbulkan kombinasi warna yang baru.


It's so interesting to see that simple spot, that might not be a tourist destination, could be so interesting. So, another time you're traveling, just look around dan don't hesitate to change your route a bit, you might be surprised with what you'll find :)


@marischkaprue - rainbow feeling at the rainbow hills

NOTES

RAINBOW HILLS
(Actually I don't know the real name of the place, but this name might describe a bit about it)
Around Kayangan Lake, Rumbai
Pekanbaru

GETTING THERE
Around 45 minutes drive from Red Planet Hotel Pekanbaru

STAY IN PEKANBARU (BUDGET)


Red Planet Hotel
Jl. Tengku Zainal Abidin No. 23
Rejosari, Pekanbaru
Riau - Indonesia

RATES
Around IDR 250.000/ night (around USD 20/ night)
Check out the latest rates and promotion here

***

31 Maret 2017

, , , , , , , ,

PICTURE PERFECT RICE TERRACE IN TEGALALANG, BALI


 
Biasanya saya tidak begitu tertarik melihat area sawah. Lahir dan besar di Bandung, rumah masa kecil saya hanya berjarak kurang dari setengah jam berjalan kaki menuju area persawahan, saya dan kakak-kakak saya sudah terbiasa bermain di sawah, menikmati sungai dan pulang dengan sendal jepit yang hanya tinggal satu, karena satu lagi terbawa arus sungai (hehe..)



Namun saya tidak menyangka bahwa saya akan begitu betah di area sawah yang satu ini. Terletak di Gianyar, Bali, kami hanya perlu berkendara sekitar 15 menit saja dari Kamandalu, resort tempat kami menginap di Ubud, Bali.



Kami turun di sisi jalanan dan langsung menuruni tangga menuju kompleks persawahan yang paling terkenal di Bali, Tegalalang. Sinar pagi menyapa dari balik pepohonan dan membuat saya lebih segar di kala kantuk masih sangat terasa. Kami terus menaiki undak-undak sawah yang mudah dilalui karena sudah disediakan blok-blok batu untuk berjalan kaki. 



Matahari masih sedikit bersembunyi di bali bukit sawah, namun pemandangan ke arah rumah-rumah di sisi jalan sudah sangat menyenangkan dengan langit biru dan lembah sawah.



Kami berjalan kaki lagi melewati "bukit" dan mendapati sinar matahari menyapa. Such a nice view! Undak-undak sawah dengan sistem pengairan tradisional yang disebut subak ini menjadi ciri sekaligus membuat area Tegalalang menjadi sangat cantik.

Beberapa kali saya dan Ferry berjalan di pematang sawah yang cukup berlumpur, dan beberapa kali pula kami menggunakan aliran air yang sangat segar untuk membilas kaki. Air dingin dan segar berpadu dengan view kehijauan dan "lorong" sawah, picture perfect view in a perfect morning!


So, maybe a visit to the rice terrace is actually not a bad idea at all, even when you think you already had enough rice field view :)

@marischkaprue - only lost her flip flop in the rice field when she's < 10 years old

Photos by Ferry Rusli

TEGALALANG RICE TERRACE
Gianyar, Bali
Indonesia

23 Maret 2017

, , , , , , , ,

MORE THAN WE EXPECT: TAMAN WISATA ALAM MAYANG, PEKANBARU



You know that time when you don't really know where to go and just try any option even though you feels like the place won't be so interesting? Yap, itu yang saya lakukan saat datang ke Pekanbaru, Riau.


This building reminds us a bit of Fuji TV Building in Tokyo, Japan
Bahkan beberapa teman memberitahu saya bahwa "tidak ada apa-apa di Pekanbaru," di luar dari makanan enak, dan bahwa saya mesti berkendara cukup jauh ke luar kota untuk menemukan lokasi-lokasi menarik.

Namun saya benar-benar ingin menikmati tiga hari dua malam di Pekanbaru dengan berkeliling di lokasi-lokasi yang tidak jauh sehingga taman di tengah kota ini jadi pilihan, Taman Wisata Alam Mayang.
Sebelumnya, saya sudah googling mengenai Taman Wisata Alam Mayang, dan jujur saja, foto-foto yang saya temukan kebanyakan berisi foto kolam dengan perahu bebek- dan angsa kayuh yang biasa kita temukan di taman rekreasi umum, tapi ada satu foto gapura yang menarik.



"Kayanya kita sebentar aja di sana," ujar saya ke Ferry saat kita berangkat dari Red Planet Hotel Pekanbaru. Dua puluh menit kemudian kita memasuki area Taman Wisata Alam Mayang yang sangat rimbun penuh pepohonan. Ternyata areanya besar dan terasa sangat menyenangkan karena kemanapun kita melihat, kehijauan jadi pemandangan utama.

Kami melewati patung totem besar, ada sebagian yang masih dibangun. "Dulu ngga gini mbak," ujar Ali, driver yang menemani kami hari itu. Memang terlihat banyak atraksi berupa patung, bangunan-bangunan kecil dengan desain menarik yang terlihat baru dibangun.


Taman ini menarik untuk berkeliling. Di sisi salah satu danau terdapat replika kapal Lancang Kuning yang terbuat dari bahan bangunan padat, namun dengan detil yang baik sehingga tidak terlihat seperti bentuk semen asal-asalan ala taman wisata umum (atau macan cisewu?) hehe.



Di sisi danau lain yang berdekatan dengan replika kapal, kami menikmati ornamen bunga kembang sepatu berukuran besar yang "ditempel" di dua pohon sehingga sekilas tampak seperti bunga asli berukuran besar.




Kamipun meneruskan berjalan kaki hingga ke area gapura ala Bali dan patung naga putih di sisi danau. Semua ornamen baru di Taman Wisata Alam Mayang dibuat dengan detil yang sangat baik sehingga menarik untuk dinikmati dan menyatu dengan alam sekeliling. Tanpa terasa kami sudah menghabiskan waktu berjam-jam berkeliling, berfoto dan bersantai. Semuanya terasa sangat menyenangkan, ditambah saat itu taman sedang sangat sepi, trully relaxing (and exciting!)



Moral of the story? Do not underestimate dan jangan sungkan untuk mencoba "datang saja" ke lokasi yang mungkin kita anggap biasa saja, you'll never know dan jangan komen menghakimi saat belum datang langsung. Trust me, you'll be surprised.

@marischkaprue - have so many surprises in Pekanbaru

Photos by Ferry Rusli

NOTES

TAMAN WISATA ALAM MAYANG
Jl. H Imam Munandar
Pekanbaru

ENTRANCE FEE
Rp. 18.000,- / person
Rp. 6.000,-/ car 

STAY IN PEKANBARU (BUDGET)


Red Planet Hotel
Jl. Tengku Zainal Abidin No. 23
Rejosari, Pekanbaru
Riau - Indonesia

RATES
Around IDR 250.000/ night (around USD 20/ night)
Check out the latest rates and promotion here
***